Pelajaran Setahun S3

Tidak ada persiapan yang cukup untuk menghadapi S3. Sebaik apapun kita pikir persiapan yang sudah kita lakukan, kenyataan di lapangan akan menampar kita dengan keras. Pasalnya, S3 ini sangat jauh berbeda dengan jenjang pendidikan yang pernah kita alami sebelumnya, termasuk pendidikan tinggi seperti S1 atau S2. Dalam kedua jenjang tersebut, mayoritas masa studi bukanlah terisi dengan kegiatan penelitian melainkan belajar mengajar di kelas yang diselingi tugas dan ujian. Skema pembelajaran seperti ini sudah sangat kita kenal dari jenjang SD hingga SMA. Tugas dan ujian meskipun sulit, keduanya (seharusnya) tetap dapat dilalui dengan cara mempelajari materi yang diberikan. Sederhananya, apapun yang ditugaskan atau diujikan, solusinya (seharusnya) dapat ditemukan di buku teks atau materi kuliah. Komponen penelitian kalaupun ada, biasanya terletak di akhir studi sebagai tugas akhir, dan itu pun singkat saja, mungkin 6 bulan untuk S1 dan 3-12 bulan untuk S2. Hal ini jauh berbeda dengan S3 yang seluruh komponennya adalah penelitian. Dalam suatu penelitian, apa yang kita teliti tidak ada jawabannya dalam buku teks atau pelajaran di kelas (kalau ada buat apa diteliti?). Alhasil, cara untuk menghadapi penelitian tidak bisa sama dengan cara untuk menghadapi kegiatan pembelajaran biasa yang sudah sangat kita kenal. Inilah salah satu alasan utama mengapa kita tidak akan siap dengan S3. Pengalaman penelitian dalam studi S1 ataupun S2 tentunya akan membantu, namun skalanya tetap jauh berbeda. Bayangkan skripsi tapi 6-8 kali lipat lebih panjang dan lebih sulit. Seperti itulah kira-kira S3.

Kegigihan adalah kunci. Dalam penelitian, kegagalan adalah keniscayaan. Ia datang bertubi-tubi dengan brutal sampai kita bertanya-tanya apakah kita pantas berada di sini. Hanya dengan kegigihanlah kita bisa selalu bangkit lagi dan lagi tanpa patah semangat. Banyak yang beranggapan bahwa kalau seseorang pintar secara akademik, maka S3 akan mulus-mulus saja baginya. Anggapan ini boleh jadi mengesankan bahwa kepandaian adalah komponen utama dalam kesuksesan seseorang dalam menempuh S3. Sayangnya kenyataannya tidak demikian. Keunggulan dalam sisi akademik meski berperan, bukanlah merupakan faktor terpenting. Sebabnya, pengetahuan yang kurang bisa diatasi dengan belajar mandiri atau ikut kelas yang umumnya dilakukan pada tahun pertama S3. Faktor terpenting justru kegigihan, kemampuan untuk terus bangkit dari setiap kegagalan, yang lebih sulit dipelajari kecuali dari pengalaman. Justru, S3 bisa jadi terasa lebih sulit bagi orang-orang yang berprestasi secara akademik karena belum terbiasa dengan kegagalan.

Jangan menilai diri dari penelitian yang dikerjakan. Maksudnya, lancar tidaknya penelitian yang dikerjakan janganlah sampai memengaruhi kita dalam menilai diri sendiri. Hal ini kontraproduktif karena, seperti yang sudah disebutkan, kegagalan akan banyak sekali ditemukan dalam suatu penelitian. Jadi, kalau kita menilai diri sendiri buruk karena kegagalan-kegagalan tersebut, hidup akan terasa sangat berat. Lama kelamaan, ini akan berpengaruh buruk pada kesehatan mental kita, dan pada akhirnya produktivitas kita. Penilaian diri seperti ini juga secara prinsip tidak benar karena sesungguhnya kita lebih dari sekedar penelitian atau pekerjaan yang kita kerjakan. We are more than just our research. Setiap dari kita memegang berbagai peran dalam hidup. Selain mahasiswa S3, kita juga berperan sebagai anak dari kedua orang tua kita. Sebagian dari kita juga berperan sebagai kakak atau adik bagi saudara kita. Sebagian yang lain yang sudah berkeluarga, juga berperan sebagai suami atau istri, dan mungkin juga orang tua bagi anak-anaknya. Dan masih banyak lagi peran yang kita mainkan dalam hidup. Oleh karena itu, pandangan yang lebih tepat adalah: kita adalah gabungan dari semua peran-peran yang kita mainkan. Kalau ada peran yang sedang terkendala dan tidak berjalan dengan baik, ingat bahwa kita tetap punya nilai yang baik dari peran-peran lainnya.

Jangan pernah membanding-bandingkan diri dengan mahasiswa S3 lainnya. Perjalanan S3 setiap orang itu unik. Setiap orang memulai S3-nya dengan latar belakang dan privilege yang berbeda-beda. Pengalaman seorang mahasiswa S3 yang sudah berkeluarga misalnya, akan jauh berbeda dengan yang belum. Apalagi pengalaman menjalani S3 di tengah pandemi seperti sekarang ini. Tantangannya sudah pasti jauh berbeda dan tidak bisa dibandingkan. Oleh karena itu, perbandingan yang dilakukan tidak akan pernah adil. Perbandingan teradil yang bisa dilakukan hanyalah dengan diri sendiri. Jadi, cukup bandingkan diri dengan diri sendiri di hari kemarin, sebulan yang lalu, atau setahun yang lalu. Selama ada kemajuan, itu sudah cukup.

Jeda itu penting. Jeda di sini bermakna waktu kosong di mana kita melepaskan diri dari kerjaan penelitian. Akan ada saat-saat di mana kita merasa perlu ada jeda sebentar karena berbagai alasan. Mungkin kita perlu jeda untuk pulih dari kegagalan. Bisa jadi juga kita perlu jeda untuk menyelamati diri sendiri atas kesuksesan-kesuksesan kecil (mis. eksperimen berjalan sesuai harapan). Atau yang sering terjadi, kita perlu jeda karena terbentur suatu masalah dan rasanya sudah buntu. Perasaan memerlukan jeda ini wajar dan perlu diwujudkan ketika ia muncul. Kita boleh berhenti mengerjakan penelitian sejenak kalau memang diperlukan. Namun, kadang-kadang perasaan ini dibarengi dengan rasa bersalah karena tidak adanya produktivitas. Buang jauh-jauh rasa bersalah itu, dan yakinkan diri kalau kita berhenti sejenak untuk maju lebih jauh lagi nantinya. Tentunya pastikan juga jedanya tidak kelamaan.

Ketidaktahuan adalah hal yang wajar. Sebagian kita mungkin beranggapan bahwa mahasiswa S3 itu mestinya tahu segalanya sehingga kalau ternyata ada hal yang tidak kita ketahui, kita jadi meragukan kelayakan diri berada di posisi ini. Anggapan ini jauh dari kebenaran. S3 pada intinya adalah belajar bagaimana menjadi seorang peneliti. Jadi, ketidaktahuan akan sesuatu adalah lazim; namanya juga belajar. Yang terpenting adalah bagaimana kita tahu apa yang tidak kita ketahui dan berkeinginan untuk mempelajari hal tersebut. Jangan pernah malu bertanya, terutama pada pembimbing kita. Justru di saat inilah kita seharusnya paling berani untuk tidak tahu dan bertanya, karena masih belajar.

S3 hanyalah permulaan. Kita tidak perlu menghasilkan penelitian yang menggemparkan. Selama penelitian kita dapat dipertanggungjawabkan metodologinya, dan hasilnya mengisi kekosongan dari penelitian-penelitian sebelumnya, itu sudah cukup. Selain itu, S3 sebenarnya adalah proses inisiasi sebelum terjun ke dunia penelitian yang sesungguhnya setelah kelulusan. Satu kutipan anonim yang relevan: a good dissertation is finished, a great dissertation is published, a perfect dissertation is neither. Jadi, daripada terlalu serius mengejar kesempurnaan penelitian yang mana adalah suatu kemustahilan, utamakan menyelesaikan penelitiannya dan menikmati perjalanannya.

Penting untuk bisa mengeksekusi berbagai ide dengan cepat. Poin ini mungkin lebih relevan dengan penelitian yang metodenya empiris. Perlu disadari bahwa sebagian besar ide penelitian akan gagal. Jadi, lebih baik gagal secepatnya sehingga bisa lanjut ke ide berikutnya. Untuk mencapai ini, penguasaan tools adalah suatu keharusan, begitu juga dengan persiapan infrastruktur untuk menjalankan eksperimen. Oleh karena itu, di awal, kita perlu mengalokasikan waktu yang cukup untuk memastikan bahwa kita betul-betul menguasai tools yang diperlukan, dan infrastruktur sudah siap. Saat ini dilakukan, mungkin ada perasaan bahwa kita sepertinya tidak ada kemajuan, tapi ini salah. Apapun yang dilakukan pada tahap ini adalah kemajuan.