Hal Menarik dari Buku “Emotional First Aid”


  • Sat 02 March 2019
  • misc

Beberapa waktu lalu, saya selesai membaca buku Emotional First Aid, sebuah buku yang, sesuai judulnya, memberikan pengetahuan tentang pertolongan pertama pada luka-luka emosional. Dalam buku ini, ada tujuh luka emosional yang dibahas: penolakan, kesepian, kehilangan dan trauma, rasa bersalah, ruminasi, kegagalan, dan rasa rendah diri. Selain menjelaskan gejala-gejala yang ditimbulkan, buku ini juga memberikan pengobatan praktis untuk mengatasi luka-luka emosional ini yang tentunya sering muncul di kehidupan sehari-hari. Saya mendapat banyak pengetahuan baru dari buku ini, dan beberapa di antaranya ingin saya bagikan lewat tulisan ini.

Permintaan Maaf yang Tulus*

Dalam bahasan rasa bersalah, salah satu pengobatan yang manjur adalah permintaan maaf yang tulus kepada pihak yang telah kita sakiti. Ada 6 komponen yang perlu ada dalam sebuah permintaan maaf agar ia dapat berfungsi efektif:

  1. pernyataan penyesalan tentang apa yang terjadi;
  2. pernyataan “saya minta maaf” yang jelas;
  3. permintaan untuk dimaafkan;
  4. validasi terhadap perasaan pihak yang menderita;
  5. tawaran ganti rugi; dan
  6. pengakuan bahwa kita telah melanggar ekspektasi.

Cukup banyak. Saya pikir template ini berguna agar lebih mudah mengingat: Saya minta maaf. Saya merasa tidak enak/menyesal sekali karena telah X. (Sisipkan validasi emosi di sini). Saya sebagai teman seharusnya melakukan Y. Semoga kamu mau memaafkan saya. (Beri tawaran ganti rugi di sini). Gaya bahasanya jika kurang cocok dapat diadopsi sesuai konteks dan kebutuhan. Perhatikan bahwa urutan komponen pada template adalah 2, 1, 4, 6, 3, dan 5.

Validasi emosi adalah salah satu hal yang juga menarik dari buku ini, dan akan saya tuliskan sedikit di bagian berikutnya. Tawaran ganti rugi memiliki dua jenis: pemberian materi dan janji/bukti untuk menjadi lebih baik. Boleh dua-duanya dilakukan, boleh salah satu saja. Sebagai catatan, kita tidak harus mengubah semua permintaan maaf kita menjadi selengkap ini. Banyak kesalahan kita yang merupakah kesalahan kecil (dari sudut pandang penderita) sehingga satu dua komponen saja mungkin cukup.

Validasi Emosi*

Validasi emosi secara singkat adalah mengakui bahwa perasaan yang sedang dirasakan oleh seseorang adalah sah. Dalam konteks rasa bersalah akibat tindakan kita, validasi emosi berarti mengakui bahwa orang tersebut merasa telah disakiti, tanpa peduli apapun niat kita sebenarnya. Buku ini memberitahu bahwa jika validasi emosi yang kita lakukan akurat, perasaan sakit penderita akan mereda. Ada 5 langkah dalam memberikan validasi emosi yang tulus pada seseorang:

  1. biarkan orang tersebut menyelesaikan ceritanya tentang apa yang terjadi;
  2. sampaikan pemahaman atas apa yang terjadi dari sudut pandang orang tersebut (meski kita tidak setuju dengannya);
  3. sampaikan pemahaman atas apa yang orang tersebut rasakan (dari sudut pandangnya);
  4. akui bahwa perasaannya adalah wajar (yang tentu saja benar ditinjau dari sudut pandangnya); dan
  5. sampaikan empati dan penyesalan atas kondisi emosionalnya.

Contoh validasi emosi yang baik ada dalam bukunya. Dan masih banyak lagi juga hal-hal menarik terkait kesehatan emosi yang ada dalam buku ini. Jika Anda tertarik membelinya, versi terjemahan bahasa Indonesia dapat ditemukan di TM Bookstore. Namun, kalau memungkinkan, saya sarankan untuk baca versi bahasa Inggrisnya karena terjemahannya agak kurang baik. Saya sempat beberapa kali agak bingung. Semoga bermanfaat!

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Creative Commons License